Hikari Research

Melayani: Konsultasi KTI, Skripsi, Mini Riset, Olah Data, Pengetikan, Translate, Scan, Cetak foto, Pulsa dll

  • Hikari Komputer

    Telp. 0852 9090 1322

  • Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui email.

    Bergabunglah dengan 9 pengikut lainnya

  • Kategori

  • Chat Yuk…


    Status YM

    Pengunjung Online

  • Tolong dong suster… bawa ke Hikari..!!

    Get Well Myspace Comments

  • Tukar Link

    <a href="https://rentalhikari.wordpress.com" target="_blank"><img class="alignnone size-full wp-image-132" title="HIKARI KOMPUTER" src="https://rentalhikari.files.wordpress.com/2009/11/hikari-komputer.gif" alt="" width="177" height="24" /></a>

    Kopi kode diatas dan taruh di sidebar blog anda, stlh itu hub saya via komentar saya link balik okay... pisss...

  • Teman-teman

    shmilytronik

LP Dengue Haemorragic Fever

Posted by dwixhikari pada 12 Maret 2010

Oleh : Niken Jayanthi, S.Kep

LAPORAN PENDAHULUAN
DENGUE HAEMORRAGHIC FEVER (DHF)

A. DEFINISI
Dengue Haemorraghic Fever (DHF) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dengue yaitu sejenis virus yang tergolong arbovirus dan masuk ke dalam tubuh penderita melalui gigitan nyamuk aedes aegypti (betina). DHF terutama dapat menyerang pada anak-anak, remaja dan dewasa serta seringkali dapat menyebabkan kematian bagi penderita (Ngastiyah, 1997).
DHF adalah penyakit pada anak, remaja dan dewasa yang gejala umumnya adalah demam, nyeri usus dan sendi disertai gejala pendarahan spontan yang timbul serentak, purpura, epistaksis, hematemesis, melena, trombositopenia, perdarahan panjang dan disertai gangguan nutrisi (Syaaefullah, Noer, 1996).
DHF adalah penyakit virus arbovirus ditularkan melalui nyamuk Aedes Aegypti (Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak, FKUI, 2005).

B. ETIOLOGI
Terlampir di rental Hikari.

C. KLASIFIKASI
1. Derajat 1
Demam disertai gejala klinis lain, tanpa perdarahan, uji tourniquet (+).
2. Derajat II
Derajat I disertai perdarahan spontan di kulit atau tempat lain.
3. Derajat III
Ditemukan kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan lemah, tekanan darah rendah (hipotensi), gelisah, sianosis sekitar mulut, hidung dan ujung jari (tanda-tanda dini renjatan)
4. Derajat IV
Renjatan berat (DSS) dengan nadi tak teraba dan tekanan darah tidak dapat diukur.

D. PATOFISIOLOGI
Fenomena patologis yang utama pada penderita DHF adalah meningkatnya permeabilitas dinding kapiler yang mengakibatkan terjadinya perembesan plasma keluar ekstraselular.
Hal pertama yang terjadi setelah virus masuk kedalam tubuh penderita adalah viremia yang mengakibatkan penderita mengalami demam, sakit kepala, mual, nyeri otot, pegal-pegal di seluruh tubuh, ruam atau bintik-bintik merah pada kulit, ptekie, pembesaran kelenjar getah bening, pembesaran hati (hepatomegali) dan pembesaran limfa (splenomegali).
Peningkatan permeabilitas dinding kapiler mengakibatkan berkurangnya volume plasma, terjadinya hipotensi, hemokonsentrasi dan hipoprotoinemia serta efusi dan renjatan (syok). Jika renjatan atau hipovolemik berlangsung lama akan timbul anoksia jaringan, metabolic asidosis dan kematian apabila tidak segera diatasi dengan baik.

E. MANIFESTASI KLINIK
Terlampir di rental Hikari.

F. PATHWAYS
Terlampir di rental Hikari.

G. TEORI ASUHAN KEPERAWATAN
I. Pengkajian
a. Keluhan Utama
Adakah keluhan panas, nyeri otot / sendi, mual, muntah, sakit kepala, perdarahan.
b. Riwayat Penyakit Sekarang
Sudah berapa lama keluhan timbul, apa saja yang sudah dilakukan untuk mengatasi keluhan.
c. Riwayat Penyakit Dahulu
Apakah sudah pernah mengalami sakit yang sama sebelumnya.
d. Riwayat Kesehatan Keluarga
Apakah ada anggota keluarga yang mengalami sakit yang sama, lingkungan di sekitar rumah.
e. Pemeriksaan Fisik
Keadaan umum, tanda vital (peningkatan suhu, penurunan tekanan darah, peningkatan / penurunan nadi, kecepatan pernafasan), adakah ptekie pada lengan, kaki atau nyeri tekan pada perut.
f. Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium (darah dan urin), serologi, diagnosis (foto thorax)
II. Diagnosa Keperawatan
1. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam suhu tubuh klien akan kembali normal
K.H : – suhu klien antara 36 – 37°C
– klien tidak gelisah
Intervensi :
• Kaji suhu dan tanda-tanda vital setiap jam
Rasional : memakai perubahan suhu tubuh
• Berikan kompres hangat
Rasional : menurunkan suhu yang meningkat
• Anjurkan klien untuk banyak minum
Rasional : mengurangi dehidrasi
• Anjurkan klien memakai pakaian yang tipis dan menyerap keringat
Rasional : menurunkan suhu tubuh
• Kolaborasi pemberian obat antiseptik
Rasional : menurunkan suhu tubuh yang meningkat
2. Resiko perdarahan berhubungan dengan trombositopenia
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam tidak ada tanda-tanda perdarahan lebih lanjut, jumlah trombosit meningkat.
K.H : trombosit mencapai nilai normal (150-400 rb/mmk)
Intervensi:
• Monitor tanda-tanda penurunan trombosit
Rasional : penurunan jumlah trombosit merupakan tanda-tanda kebocoran pada pembuluh darah
• Monitor jumlah trombosit setiap hari
Rasional : dengan memantau jumlah trombosit setiap hari, dapat diketahui tingkat kebocoran pembuluh darah dan kemungkinan perdarahan yang dapat dialami pasien.
• Anjurkan klien untuk banyak istirahat
Rasional : aktivitas klien yang tidak terkontrol akan menyebabkan terjadinya perdarahan
3. Defisit volume cairan dan elektrolit berhubungan dengan peningkatan permeabilitas kapiler
Tujuan : tidak terjadi defisit volume cairan dan elektrolit
KH : klien tidak mengalami kekurangan volume cairan yang ditandai dengan tanda-tanda vital stabil dalam batas normal, turgor kulit baik
Intervensi:
• Kaji keadaan umum dan TTV
Rasional : menetapkan data dasar pasien, untuk mengetahui dengan cepat penyimpangan dari keadaan normalnya
• Pantau masukan dan pengeluaran, catat berat jenis urin
Rasional : memberikan perkiraan kebutuhan akan cairan pengganti
• Anjurkan klien untuk banyak minum
Rasional : untuk mengetahui keseimbangan cairan
• Kolaborasi dokter dalam pemberian input
Rasional : memberikan nutrisi, meningkatkan cairan dalam tubuh
4. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake makanan yang tidak adekuat, mual, tidak nafsu makan.
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam kebutuhan nutrisi klien dapat terpenuhi
K.H : klien dapat menghabiskan per makanan yang dihidangkan/nafsu makan meningkat, BB klien stabil
Intervensi:
• Observasi keadaan umum klien, tanda-tanda vital, BB klien.
Rasional : untuk menentukan intervensi berikutnya
• Berikan makanan dalam porsi kecil dengan frekuensi sering
Rasional : asupan nutrisi klien sedikit demi sedikit terpenuhi
• Berikan makanan yang mudah di telan/lunak
Rasional : membantu mengurangi kelelahan pasien dan meningkatkan asupan makanan karena mudah ditelan
• Catat jumlah porsi makanan yang dihabiskan oleh klien tiap hari
Rasional : untuk mengetahui pemenuhan nutrisi pasien
• Berikan nutrisi parenteral
Rasional : nutrisi parenteral sangat bermanfaat/dibutuhkan klien terutama jika intake per oral kurang
• Kolaborasi pemberian multivitamin sebagai suplemen
Rasional : meningkatkan nafsu makan

H. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Periksaan Laboratorium
Pada pemeriksaan darah pasien DHF akan dijumpai Dengue positif
– Trombositopenia
– Hemakonsentrasi (hematokrit meningkat)
– Hasil pemeriksaan kimia darah menunjukkan : hipoproteinemia, hiponatremia
Pada hari ke 2 dan ke 3 terjadi peningkatan limfosit, monosit dan basofil
– SGOT/SGPT darah mungkin meningkat
– Ureum dan Ph darah mungkin meningkat
– Waktu perdarahan memanjang
– Pemeriksaan analisa gas darah arteri menunjukkan asidosis
metabolic : PCO2 < 35 – 40 mmHg, HCO3 rendah.
2. Pemeriksaan Serologi (serum darah)
Dilakukan pengukuran titer antibodi pasien dengan cara haemaglutination inhibition test (HI test) atau dengan uji peningkatan komplemen nada pemeriksaan serologi dibutuhkan 2 bahan pemeriksaan yaitu pada masa akut atau demam dan pada masa penyembuhan. Untuk pemeriksaan serologi ini diambil darah vena 2 – 5 ml.
3. Pemeriksaan diagnosis yang menunjang
Fotothorak mungkin dijumpai efusi pleura, pemeriksaan USG, hepatomegali dan splenomegali

I. PENATALAKSANAAN
1. Medik
Pada dasarnya pengobatan pasien DHF/DBD bersifat simptomatis dan suportif.
2. DHF/DBD tanpa renjatan (syok)
Demam tinggi, anoreksia dan sering muntah menyebabkan pasien dehidrasi dan haus. Pasien perlu diberikan banyak minum yaitu 2 -2,5 liter dalam 24 jam berupa susu, teh manis dan sirup.
Keadaan hiperpireksia diatasi dengan obat antipiretik dan kompres dingin, jika terjadi kejang diberi luminal/anti konvulsan lainnya. Luminal diberikan dengan dosis anak umur 1 tahun 75 mg. Jika 15 menit kejang belum teratasi, luminal diberikan lagi dengan dosis 3 mg/kgBB/im. Anak diatas 1 tahun diberikan 50 mg dan dibawah 1 tahun 30 mg dengan memperhatikan adanya depresi fungsi vital. Infus diberikan pada pasien DHF/DBD tanpa renjatan apabila:
1. Pasien terus-menerus muntah, tidak dapat diberikan minum sehingga mengalami terjadinya dehidrasi.
2. Hematokrit yang cenderung meningkat
Hematokrit mencerminkan derajat kebocoran plasma dan biasanya mendahului munculnya secara klinik perubahan fungsi vital (hipotensi penurunan tekanan nadi). Sedangkan turunnya nilai trombosit biasanya mendahului naiknya hematokrit. Oleh karena itu pasien yang diduga menderita DBD harus diperiksa HB, HT dan trombosit setiap hari mulai hari ke 3 sakit sampai demam telah turun 1 – 2 hari. Nilai Ht itulah yang menentukan apakah pasien perlu dipasang infus/tidak.
3. DHF/DBD) disertai renjatan (DSS)
Pasien yang mengalami renjatan (syok) harus segera di pasang infus sebagai pengganti cairan yang hilang akibat kebocoran plasma. Cairan yang diberikan biasanya RL (Ringer Laktat). Jika pemberian cairan tersebut tidak ada respon diberikan plasma/plasma ekspander banyaknya 20-30 ml/kgBB. Pada pasien dengan renjatan berat pemberian infus harus di guyur dengan cara membuka klem infus.
Apabila renjatan telah teratasi, nadi sudah jelas teraba amplitude nadi cukup besar tekanan sistolik 80 mmHg/lebih, kecepatan tetesan dikurangi menjadi 10 ml/kgBB/Jam, Mengenai kebocoran plasma biasanya berlangsung 24-28 jam maka pemberian infus dipertahankan sampai 1-2 hari lagi walaupun tanda-tanda vital telah nyata-nyata baik karena hematokrit merupakan indeks yang terpercaya dalam menentukan kebocoran plasma, maka pemeriksaan Ht perlu dilakukan secara periodik. Selanjutnya kecepatan keputusan diberikan seusai dengan keadaan gejala klinik dan nilai hematokrit.
Tranfusi darah diberikan pada pasien dengan perdarahan gastrointestinal yang hebat, kadang perdarahan gastrointestinal berat dapat diduga apabila nilai hemoglobin dan hematoksit menurun sehingga perdarahannya sendiri tidak kelihatan. Dengan memperhatikan evaluasi klinik yang telah dibuat, maka dalam keadaan inipun dianjurkan pemberian darah. Fungsi ginjal dan keefektifan dari terapi yang diberikan, meningkatkan intake cairan tubuh.

DAFTAR PUSTAKA
Doengoes, Marylin (2000). Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman umum perencanaan dan pendokumentasian Perawatan pasien. EGC Jakarta.
Mansyoer A (2000). Kapita Selekta Kedokteran. Edisi ketiga jilid 2. Media Aesculapius. FKUI: Jakarta.
Ngastiyah (1997). Perawatan Anak Sakit. EGC : Jakarta.
Staf pengajar FKUI (2005). Ilmu Kesehatan Anak. Edisi ketiga FKUI: Jakarta.
Wong Donna L (2003). Pedoman klinik keperawatan. Pediatrik EGC : Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: